You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Semangat

UMANIS Kampung Bumi Dipasena Agung Kampung Digital · Udang Manis Memuat
Logo Bumi Dipasena Agung Bumi Dipasena Agung Kec. Rawa Jitu Timur, Kab. Tulang Bawang Melayani Warga, Membangun Kampung
Login Admin
Informasi Kampung
Selamat Datang di Website Resmi Kampung Dipasena Agung!

Beranda / Berita Desa

Fenomena "Ngangsu" menjadi rutinitas masyarakat Kampung Bumi Dipasena Agung : Dampak dari kemarau panjang

M. YUNUS 22 Oktober 2026 Dibaca 105 Kali

Fenomena "Ngangsu" menjadi rutinitas masyarakat Kampung Bumi Dipasena Agung : Dampak dari kemarau panjang

WhatsApp_Image_2026-10-21_at_19.48.05(21/10/2026) Salah satu warga menampung air sumur bor

BUMI DIPASENA AGUNG, 21 Oktober 2026 – Kemarau panjang yang berlangsung sejak Juni 2026 mulai berdampak pada pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat Kampung Bumi Dipasena Agung, Kecamatan Rawajitu Timur, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung. Sejak awal Agustus, warga mulai kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari setelah persediaan air hujan yang selama ini ditampung di rumah masing-masing berangsur habis.

Kondisi tersebut membuat sumur bor umum milik kampung yang berada di kantor Pemerintahan Kampung Bumi Dipasena Agung menjadi salah satu sumber air yang diandalkan masyarakat. Setiap hari, warga bergantian datang membawa jeriken, galon, dan wadah penampung lainnya untuk mengangkut air ke rumah.

Bagi masyarakat di wilayah Rawajitu Timur, air hujan selama ini menjadi salah satu sumber utama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, terutama mandi dan mencuci. Ketika musim kemarau berlangsung cukup lama, persediaan air dalam bak penampungan semakin menipis. Warga pun harus meluangkan waktu dan tenaga untuk mengambil air dari sumur bor yang masih dapat dijangkau.

Aktivitas yang dikenal warga dengan istilah "mengangsu" tersebut biasanya dilakukan pada pagi, sore, bahkan malam hari. Bagi sebagian warga, kegiatan ini menjadi rutinitas tambahan agar kebutuhan air rumah tangga tetap terpenuhi.

Suparno, salah seorang warga Kampung Bumi Dipasena Agung, mengaku telah mulai mengambil air dari sumur bor umum sejak awal Agustus. Meski kondisi air terkadang masih terlihat keruh, ia tetap memanfaatkannya untuk kebutuhan tertentu setelah didiamkan terlebih dahulu.

WhatsApp_Image_2026-10-21_at_19.48.05_(1)Suparno, salah satu warga yang terdampak kemarau panjang tahun 2026 

“Saya mah udah mulai ngangsu ini dari awal Agustus lalu. Walaupun air sumur ini masih rada-rada keruh, tapi alhamdulillah, masih layak kok. Jadi setiap habis ngangsu, saya diamkan dulu airnya sekitar 2–4 jam sebelum saya pakai, biar serat-serat atau kotorannya itu mengendap dulu. Baru lah saya pakai buat mandi, buat nyuci,” ungkap Suparno saat ditemui pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Ia menambahkan, kebutuhan air untuk rumah tangganya mencapai sekitar empat jeriken setiap hari. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ia biasanya mengambil air pada pagi dan sore hari.

“Untuk kebutuhan sehari minimal empat jeriken air, jadi saya kurang lebih ngangsu dua jeriken setiap pagi dan dua jeriken setiap sore,” tambahnya.

Pengalaman Suparno menggambarkan bagaimana kemarau mengubah rutinitas warga. Kebutuhan air yang biasanya dipenuhi dari penampungan air hujan kini harus diupayakan melalui kegiatan mengambil air secara berulang.

Kaur Tata Usaha dan Umum Pemerintah Kampung Bumi Dipasena Agung, Ponidi, mengatakan bahwa keberadaan sumur bor umum menjadi salah satu hal yang membantu masyarakat menghadapi kesulitan air selama musim kemarau. Menurutnya, warga cukup beruntung karena kampung memiliki beberapa fasilitas umum yang dilengkapi sumur bor sehingga masyarakat mempunyai alternatif sumber air.

“Alhamdulillah, kita cukup beruntung karena di kampung ini ada sumur bor umum yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Jumlahnya juga tidak hanya satu. Selain sumur bor yang berada di kantor pemerintahan kampung, ada juga sumur bor di beberapa fasilitas umum, seperti sumur milik musala di wilayah RW atau kesukuan masing-masing. Jadi, warga bisa mengambil air dari lokasi yang lebih dekat dengan rumahnya, tidak harus semuanya datang ke kantor kampung,” ujar Ponidi.

Ia menjelaskan, keberadaan sumur bor di sejumlah fasilitas umum tersebut membantu warga memilih lokasi pengambilan air yang lebih mudah dijangkau. Sebagian masyarakat mengambil air dari sumur bor di kantor pemerintahan kampung, sedangkan warga lainnya memanfaatkan sumur bor di musala atau fasilitas umum di wilayah masing-masing karena jaraknya lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.

“Harapannya, fasilitas yang sudah ada ini bisa dimanfaatkan bersama dengan baik. Warga juga perlu saling menjaga dan menggunakan air secukupnya, supaya sumber air yang tersedia bisa membantu kebutuhan masyarakat selama musim kemarau,” tambahnya.

Keberadaan sejumlah sumur bor tersebut menjadi alternatif bagi masyarakat ketika persediaan air hujan di rumah mulai habis. Meski demikian, kondisi air dari sumur bor umum di kantor kampung dinilai sebagian warga masih kurang jernih sehingga lebih banyak digunakan untuk kebutuhan seperti mandi dan mencuci.

Di tengah keterbatasan air, sebagian masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih memilih membeli air dari sumber mata air di luar Kecamatan Rawajitu Timur. Pilihan tersebut membutuhkan biaya tambahan karena jarak sumber air cukup jauh, sehingga tidak semua warga dapat mengandalkannya secara rutin.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kemarau panjang turut menambah beban waktu, tenaga, dan pengeluaran rumah tangga. Warga yang mengambil air sendiri harus menyediakan waktu untuk mengangsu, sementara mereka yang membeli air perlu menyiapkan biaya tambahan demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Masyarakat diharapkan dapat menggunakan air secara bijak dan memperhatikan kualitasnya sesuai peruntukan. Air yang terlihat lebih jernih setelah didiamkan belum tentu aman untuk diminum, sehingga kebutuhan konsumsi harus menggunakan air yang terjamin keamanannya.

Kemarau panjang menjadi pengingat pentingnya ketersediaan sumber air bersih yang mudah dijangkau masyarakat. Bagi warga Kampung Bumi Dipasena Agung, keberadaan sumur bor di kantor pemerintahan kampung dan sejumlah fasilitas umum lainnya menjadi alternatif yang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari sambil menunggu hujan kembali turun dan mengisi persediaan air di rumah mereka.

Bagikan Facebook X WhatsApp

Beri Komentar

Komentar baru terbit setelah disetujui admin.

CAPTCHA

Pendapatan

Realisasi dari Anggaran
Rp 0,00 dari Rp 0,00
0%
Tercapai
Pendapatan kampung mendukung pembangunan dan pelayanan masyarakat.

Belanja

Realisasi dari Anggaran
Rp 0,00 dari Rp 0,00
0%
Tercapai
Belanja kampung diarahkan untuk program prioritas masyarakat.

Pembiayaan

Realisasi dari Anggaran
Rp 0,00 dari Rp 0,00
0%
Tercapai
Pembiayaan mendukung kesinambungan pembangunan kampung.
UMANIS•Transparan•Akuntabel•Partisipatif•Berkelanjutan